
Menjaga kelangsungan atau kontinuitas bisnis merupakan hal yang penting untuk diperhatikan oleh setiap perusahaan. Apa pun aktivitas yang sedang berjalan di perusahaan Anda, selalu ada risiko kejadian tak terduga yang bisa menghentikan proses operasionalnya secara mendadak. Hal yang menghentikan proses operasional dapat disebabkan insiden yang disengaja maupun tidak disengaja, baik itu faktor kesalahan manusia ataupun bencana alam. Apa pun penyebab gangguan proses operasional tersebut,
stakeholder (para pemangku kepentingan perusahaan) akan selalu menuntut perusahaan agar dapat melanjutkan aktivitas bisnis secepatnya.
Sebagian pebisnis percaya bahwa mereka dapat menemukan solusi secara instan untuk mengatasi insiden ataupun krisis yang tiba-tiba menimpa perusahaan. Namun, para pemimpin perusahaan dunia justru selalu menyisihkan waktunya untuk membuat rencana kontinuitas bisnis (
business continuity plan) untuk mengantisipasi hal-hal tersebut.
Apa yang dimaksud dengan rencana kontinuitas bisnis?
Rencana kontinuitas bisnis adalah prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa ketika terjadi bencana, siklus bisnis perusahaan dapat dilanjutkan kembali secara tepat waktu dan teratur, dengan sedikit atau tanpa gangguan terhadap proses bisnis utama dan layanan operasionalnya.
Fungsi utama rencana kontinuitas bisnis meliputi:
- Memastikan keselamatan seluruh personil perusahaan.
- Meminimalisasi gangguan bisnis dalam penyediaan produk atau layanan.
- Melanjutkan operasi bisnis utama secepatnya setelah terjadi bencana.
- Meminimalisasi kerugian finansial.
Rencana Kontinuitas Bisnis dalam Lingkungan Indonesia
Disebabkan lokasi geografisnya, Indonesia tidak hanya terkena bencana-bencana yang disebabkan gejolak politik atau ekonomi, namun juga bencana alam. Walaupun bencana-bencana alam ini dapat terasa jauh dari aktivitas bisnis sehari-hari, namun pada kenyataannya banyak bencana alam di Indonesia yang memberikan kerugian material sangat besar.
- Banjir: Setiap tahunnya, banjir Jakarta memberikan kerugian materi mulai dari ratusan miliar hingga belasan triliun rupiah.
- Gempa: Gempa Palu yang terjadi tahun 2018 telah membawa kerugian hingga belasan triliun rupiah.
- Tsunami: Tsunami Banten yang terjadi tahun 2018 telah membawa kerugian hingga 200 miliar rupiah.
- Erupsi: Erupsi Gunung Agung tahun 2017 membawa kerugian hingga 209 miliar rupiah.
Oleh sebab itu, tanpa adanya rencana kontinuitas bisnis, kerugian yang timbul dapat menjadi lebih besar lagi. Untungnya, beberapa organisasi Indonesia telah melakukan maupun mempersiapkan penanggulangan yang efektif, seperti:
- Banjir Jakarta: Selain memperbaiki sistem drainase yang rawan meluapkan air dalam radius pengerjaan proyek MRT Jakarta, PT MRT Jakarta juga telah menyiapkan pompa-pompa air dengan generator set bertenaga tinggi untuk mengeluarkan air jika tetap terjadi kebocoran. Dengan persiapan tersebut, PT MRT Jakarta memastikan pengerjaan proyek akan tetap berjalan walaupun terjadi banjir di wilayah pengerjaan.
- Erupsi Gunung Agung: Beberapa maskapai, seperti Garuda Indonesia, memiliki rencana rotasi jadwal kru pesawat yang akan dilaksanakan ketika terjadi peristiwa yang menyebabkan sejumlah kru tertahan di satu lokasi. Maka dari itu, walaupun erupsi Gunung Agung pada tahun 2017 menyebabkan penutupan bandara yang membuat banyak kru Garuda Indonesia tertahan di Bali, maskapai ini tetap dapat melaksanakan penerbangan-penerbangan lainnya seperti biasa.
Meluangkan waktu untuk menyusun kerangka kontinuitas bisnis yang baik adalah hal penting yang dapat menentukan masa depan sebuah bisnis setelah diterjang bencana. Pembuatan rencana kontinuitas bisnis yang tepat dapat memastikan bahwa perusahaan dapat melanjutkan proses operasional dalam waktu sesingkat-singkatnya.