Selama ini, ketika berbicara mengenai ESG reporting, perhatian perusahaan biasanya tertuju pada satu pertanyaan:
“Apa yang harus diungkapkan?”
Namun, pertanyaan berikutnya mulai menjadi sama pentingnya:
“Bagaimana informasi tersebut akan dibaca dan digunakan?”
Perkembangan terbaru dari International Sustainability Standards Board (ISSB) menunjukkan bahwa sustainability disclosure bergerak semakin dekat dengan digital reporting.
IFRS Sustainability Disclosure Taxonomy memungkinkan informasi sustainability yang disusun berdasarkan IFRS Sustainability Disclosure Standards diberi tags sehingga menjadi computer-readable. Dengan demikian, investor dan penyedia modal dapat lebih mudah mencari, mengekstrak, membandingkan, dan menganalisis informasi tersebut.
Dari “Laporan” Menjadi “Data”
Perubahan ini mungkin terlihat teknis. Namun implikasinya cukup besar. Sustainability report selama ini sering diperlakukan sebagai output akhir dokumen yang selesai setelah seluruh data dikumpulkan dan narasi ditulis.
Digital reporting mendorong cara pandang yang berbeda. Informasi sustainability semakin perlu dipandang sebagai data yang memiliki struktur, definisi, konsistensi, dan keterlacakan.
Artinya, kualitas ESG reporting tidak hanya ditentukan oleh bagaimana laporan terlihat, tetapi juga oleh kualitas informasi di baliknya.
Mengapa Ini Penting bagi Perusahaan?
Bayangkan dua perusahaan sama-sama melaporkan emisi, konsumsi energi, atau sustainability-related risks.
Jika informasi perusahaan pertama dapat dibaca dan dibandingkan secara sistematis, sementara informasi perusahaan kedua sulit ditelusuri atau menggunakan definisi indikator yang tidak konsisten, kualitas penggunaannya tentu berbeda.
Di sinilah data governance menjadi semakin penting.
Perusahaan perlu mengetahui:
- Dari mana data berasal?
- Siapa data owner-nya?
- Bagaimana definisinya?
- Bagaimana data divalidasi?
- Apakah metodologinya konsisten?
- Bagaimana perubahan data didokumentasikan?
- Bagaimana informasi tersebut terhubung dengan laporan keuangan?
Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah muncul dalam persiapan IFRS S1 dan S2. Perusahaan perlu memetakan sumber dan kualitas data serta mengidentifikasi gap antara praktik pelaporan saat ini dan kebutuhan disclosure.
ESG Reporting Bertemu Data Governance
Digitalisasi sustainability disclosure juga menunjukkan bahwa ESG reporting semakin sulit dipisahkan dari fungsi lain.
- Finance memiliki data keuangan.
- Risk Management memiliki data risiko.
- HR memiliki data tenaga kerja.
- Operations memiliki data energi dan sumber daya.
- Sustainability memiliki data dan target ESG.
Ketika informasi tersebut perlu menghasilkan disclosure yang konsisten dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan, perusahaan membutuhkan data architecture dan governance yang lebih terintegrasi.
Bukan Berarti PDF Akan Hilang
Penting untuk membedakan antara laporan yang dapat dibaca manusia dan data yang dapat dibaca mesin.
IFRS Sustainability Disclosure Taxonomy tidak memperkenalkan persyaratan disclosure baru dan tidak mengubah compliance terhadap IFRS Sustainability Disclosure Standards. Fungsinya adalah mendukung digital financial reporting dengan memungkinkan perusahaan memberi tags pada informasi yang dilaporkan.
Namun, arahnya memberikan pesan yang jelas:
ESG reporting semakin bergerak dari sekadar disclosure menjadi data infrastructure.
Bagi perusahaan Indonesia yang sedang mempersiapkan PSPK 1 dan PSPK 2, ini menjadi alasan lain mengapa persiapan tidak sebaiknya dimulai ketika laporan akan ditulis.
Karena ketika sustainability information semakin digunakan untuk analisis dan pengambilan keputusan, kualitas data di belakang laporan akan menjadi sama pentingnya dengan laporan itu sendiri.
Pertanyaan yang Perlu Mulai Dijawab
Apakah perusahaan Anda sudah memiliki data ESG?
Atau yang lebih penting:
Apakah perusahaan Anda memiliki data ESG yang terstruktur, konsisten, dapat ditelusuri, dan siap digunakan?