Selama beberapa tahun terakhir, perubahan iklim menjadi salah satu isu utama dalam ESG reporting.
Perusahaan mulai menghitung emisi, menetapkan target, melakukan climate risk assessment, dan mempersiapkan pengungkapan terkait iklim.
Namun, lanskap sustainability disclosure tidak berhenti pada karbon. Kini perhatian global mulai bergerak lebih jauh:
Nature-related risks and opportunities.
Pada 2026, ISSB memindahkan proyek Nature-related Disclosures dari tahap research menuju standard-setting. Proyek tersebut bertujuan mengembangkan disclosure requirements untuk memenuhi kebutuhan investor terhadap informasi mengenai nature-related risks and opportunities.
Pada Juli 2026, ISSB juga menyelesaikan langkah due process untuk memulai balloting atas Exposure Draft proposed IFRS Practice Statement on nature-related disclosures, dengan rencana publikasi pada Oktober 2026 dan periode komentar selama 120 hari.
Mengapa Nature Mulai Menjadi Isu Disclosure?
Ketergantungan perusahaan terhadap alam sebenarnya sudah melekat dalam banyak model bisnis.
Perusahaan membutuhkan air, memerlukan bahan baku, bergantung pada ekosistem, dan menggunakan sumber daya alam dalam value chain. Ketika terjadi perubahan pada ekosistem tersebut, dampaknya tidak selalu berhenti sebagai persoalan lingkungan. Ia dapat berkembang menjadi operational risk, supply chain risk, regulatory risk, reputational risk, bahkan financial risk.
Pendekatan IFRS S1 sendiri melihat sustainability-related risks and opportunities dalam konteks bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi prospek perusahaan, termasuk cash flows, access to finance, atau cost of capital.
Climate dan Nature Tidak Berdiri Sendiri
Menariknya, ISSB juga sedang mengeksplorasi hubungan antara climate-related dan nature-related risks.
Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak selalu dapat melihat climate dan nature sebagai dua agenda yang sepenuhnya terpisah.
Misalnya, sebuah perusahaan mungkin memiliki target pengurangan emisi, tetapi strategi transisinya dapat memiliki konsekuensi terhadap penggunaan lahan, air, biodiversitas, atau supply chain. Di sinilah konsep connected information menjadi penting.
Apa yang Perusahaan Bisa Mulai Lakukan Sekarang?
Belum perlu menunggu sampai standar final tersedia untuk mulai memahami isu ini.
Perusahaan dapat mulai dengan pertanyaan sederhana:
- Di mana bisnis kita bergantung pada alam?
Identifikasi dependencies terhadap air, lahan, bahan baku, ekosistem, dan sumber daya lainnya.
- Di mana aktivitas bisnis kita memberikan impact terhadap alam?
Lihat bukan hanya operasi langsung, tetapi juga value chain.
- Risiko apa yang dapat muncul jika dependencies tersebut terganggu?
Pertimbangkan operational, supply chain, regulatory, market, dan financial implications.
- Apakah risiko tersebut sudah masuk ke ERM?
Jika sustainability-related risks belum masuk ke risk identification dan risk register, perusahaan mungkin belum memiliki gambaran lengkap mengenai profil risikonya.
ESG Reporting Sedang Bergerak ke Arah yang Lebih Luas
Perkembangan ISSB menunjukkan bahwa pembahasan sustainability disclosure terus berkembang melampaui climate-related disclosure.
Namun, penting untuk dicatat: nature-related disclosure belum menjadi standar final yang berlaku. Saat ini ISSB masih berada dalam proses standard-setting.
Bagi perusahaan, ini bukan berarti harus menunggu standar baru sebelum bertindak. Justru, pemahaman mengenai dependencies, impacts, risks, opportunities, dan value chain dapat mulai dibangun sekarang.
Karena perjalanan ESG reporting mungkin tidak lagi berhenti pada pertanyaan:
“Berapa besar emisi perusahaan?”
Tetapi berkembang menjadi:
“Bagaimana bisnis kita bergantung pada alam dan apa yang terjadi pada prospek bisnis jika hubungan tersebut berubah?”