Sektor industri energi tanah air menunjukkan perubahan positif seiring berjalannya waktu. Data yang dilansir dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM RI) 2022 menunjukkan bahwa suplai energi di Indonesia meningkat 19% lebih besar daripada tahun sebelumnya. Kemajuan itu patut diimbangi dengan perhatian terhadap kelestarian lingkungan serta kesejahteraan hidup masyarakat di sekitar lokasi bisnis sebagai elemen penting yang menyokong industri energi.
Motivasi tersebut menginspirasi munculnya konsep keberlanjutan (sustainability) sebagai salah satu prinsip utama yang mendasari industri energi. Namun, pemahaman seputar sustainability sering kali gagal diterapkan secara utuh dalam proses operasional bisnis. Alih-alih menerapkan keberlanjutan, upaya greenwashing diperkenalkan secara gencar hingga seakan menjadi bagian erat dari sustainability.
Mengenal Apa Itu Sustainability dan Greenwashing
Sustainability adalah suatu konsep berkesinambungan yang membuat bisnis tak sekadar mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan sosial dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan kata lain, sustainability membuat bisnis tidak cuma bermanfaat bagi orang yang terlibat langsung di dalamnya, melainkan juga masyarakat sekitar bahkan dengan jangkauan yang lebih luas.
Sementara itu, greenwashing adalah strategi pemasaran yang mengklaim bahwa produk, jasa, atau proses dalam suatu bisnis memprioritaskan keberlanjutan. Istilah greenwashing mulai diperkenalkan sejak tahun 1980-an oleh kelompok aktivis lingkungan yang menemukan kejanggalan dalam praktik komersial bisnis. Taktik tersebut dianggap krusial untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan sekaligus membangun citra bisnis yang sempurna.
Salah satu contoh implementasi sustainability dalam industri energi adalah bisnis pertambangan sumber bahan bakar fosil yang diklaim minim dampak buruk bagi lingkungan karena emisi karbon yang dihasilkan lebih sedikit. Klaim tersebut dapat dikategorikan sebagai greenwashing jika tidak ada bukti konkret mengenai perbandingan jumlah emisi karbon yang dihasilkan industri energi tersebut dengan sektor bisnis energi konvensional lainnya.
Perbedaan Sustainability dan Greenwashing
Beberapa perbedaan mendasar antara sustainability dan greenwashing dapat ditinjau berdasarkan aspek-aspek berikut ini:
Proses Operasional: prinsip sustainability berfokus pada beberapa elemen yang meliputi Standard Operation Procedure (SOP), partisipasi SDM, komitmen manajemen, pengawasan kualitas, serta rencana perbaikan. Berbeda dengan sustainability, konsep greenwashing cenderung menjalankan operasional bisnis seperti biasa yang berorientasi pada efisiensi biaya.
Orientasi bisnis: sustainability membuat bisnis membangun banyak perencanaan dan sistem baru demi mencapai tujuan keberlanjutan di masa depan. Sementara itu, greenwashing membuat bisnis bertujuan mendapatkan keuntungan maksimal semata sehingga menitikberatkan strategi jangka pendek.
Transparansi: penerapan sustainability identik dengan sistem yang transparan supaya kendala sekecil apa pun bisa diatasi demi mewujudkan keberlanjutan. Sebaliknya, greenwashing kurang menjunjung tinggi transparansi agar kelemahan aspek yang berhubungan dengan keberlanjutan tidak memicu kontroversi.
Sertifikasi: perolehan sertifikasi merupakan salah satu bukti bahwa pelaku industri energi telah menerapkan sustainability secara efektif dan senantiasa melakukan perbaikan berkesinambungan. Pencapaian tersebut bertolak belakang dengan greenwashing yang hanya melakukan klaim sepihak tanpa disertai sertifikasi terkait yang jelas.
Implementasi Sustainability dalam Sektor Industri Energi
Prinsip sustainability dalam sektor industri energi bisa direalisasikan dengan melakukan beberapa upaya, yaitu:
Pemahaman tentang pilar sustainability: perusahaan mesti lebih gencar memberikan pemahaman kepada seluruh pihak yang terlibat di dalamnya tentang pilar keberlanjutan. Pilar tersebut mencakup tata kelola (SOP dan evaluasi), sosial budaya (partisipasi SDM), lingkungan (pengawasan mutu), dan ekonomi (komitmen manajemen).
Pemberlakuan konsep Environmental, Social, and Governance (ESG): ESG merupakan kerangka kerja yang berfungsi menilai dampak bisnis terhadap faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Penilaian perusahaan berdasarkan 3 aspek tersebut tergolong investasi yang bermanfaat bagi semua pihak, baik pelaku bisnis, masyarakat sekitar, maupun pemerintah. Dengan demikian, kekeliruan sekecil apa pun bisa ditemukan dan lekas dievaluasi berdasarkan kerangka kerja ESG sebagai parameter penilaian.
Evaluasi manajemen risiko: perusahaan industri energi yang menerapkan keberlanjutan juga mesti melakukan evaluasi manajemen risiko secara terus-menerus. Upaya ini sangat esensial karena manajemen risiko harus dikembangkan secara dinamis sesuai perubahan yang terjadi pada lingkungan dan kondisi sosial.
Sertifikasi proses bisnis atau produk: tanggung jawab dalam industri energi juga dapat dibuktikan melalui usaha mendapatkan sertifikasi proses bisnis atau produk. Pencapaian ini menunjukkan bahwa perusahaan tak hanya berorientasi pada profit dan kemajuan bisnis, tetapi juga berkomitmen mendukung pelestarian lingkungan dan situasi sosial di sekitarnya.
Sustainability adalah rangkaian proses panjang yang butuh waktu lama untuk memberikan hasil signifikan. Namun, faedahnya bersifat holistik dibandingkan greenwashing yang sekadar bagian dari strategi pemasaran bisnis.