Perkembangan industri energi yang berlangsung pesat selama beberapa dekade terakhir tentu menghasilkan profit fantastis. Namun, sektor bisnis yang baik tentu tak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Kinerja perusahaan industri energi juga patut dinilai berdasarkan dampaknya terhadap lingkungan serta kondisi sosial masyarakat. Itulah sebabnya kerangka kerja Environmental, Social, and Governance (ESG) diadopsi untuk mendukung konsep keberlanjutan (sustainability) dalam sektor bisnis tersebut.
Penerapan ESG di perusahaan membutuhkan audit dan proses pelaporan agar tingkat keberhasilannya lebih terukur. Nantinya, proposisi ESG yang kuat akan memicu pertumbuhan bisnis sekaligus meminimalkan risiko terkait masalah kepatuhan, lingkungan, serta hukum.
Apa Itu ESG Reporting?
Global Reporting Initiative (GRI) mendeskripsikan pelaporan ESG (ESG reporting) sebagai upaya pengungkapan informasi secara transparan yang mencakup operasional serta risiko perusahaan dalam tiga bidang, yaitu lingkungan (Environmental), tanggung jawab sosial (Social), dan tata kelola perusahaan (Governance). Pelaporan ini mulai menjadi sorotan di tanah air, khususnya pada sektor industri energi, manufaktur, dan keuangan karena kesadaran tentang isu sosial dan kelestarian lingkungan semakin meningkat.
Ada beberapa standar global terkait ESG reporting yang mulai diadopsi di tingkat nasional, antara lain Global Reporting Initiative (GRI), Sustainability Accounting Standards Board (SASB), serta Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD). Implementasi standar tersebut membantu perusahaan mengkomunikasikan tentang pengelolaan risiko berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan (stakeholders).
Mengapa ESG Reporting Itu Penting?
ESG reporting adalah salah satu hal esensial dalam penerapan keberlanjutan di sektor industri energi karena berorientasi pada beberapa tujuan fungsional, yaitu:
- Meningkatkan daya saing di kancah nasional dan global: kinerja ESG yang diinterpretasikan secara jelas dalam pelaporan adalah bukti profesionalitas suatu bisnis. Di masa depan, semakin banyak investor menyertakan ESG sebagai bagian penting yang memengaruhi keputusan investasi. Pertimbangan inilah yang membuat pelaporan ESG secara transparan menjadi modal untuk menarik kepercayaan investor di tingkat nasional maupun global.
- Mengupayakan mitigasi risiko: manajemen risiko bukan sekadar mencari solusi bagi permasalahan yang ada, melainkan juga mengupayakan pencegahan sejak dini. Mitigasi risiko yang matang dapat diwujudkan melalui peninjauan menyeluruh serta ESG reporting secara teratur. Upaya ini akan membuat perusahaan energi lebih peka memperkirakan risiko di masa kini dan masa depan sehingga mitigasinya bisa disiapkan seoptimal mungkin.
- Memenuhi ekspektasi masyarakat: bukan hanya pemangku kepentingan yang butuh ESG reporting untuk menganalisis kondisi bisnis, tetapi juga masyarakat. Beberapa tahun belakangan ini, kepedulian masyarakat terhadap isu sosial dan lingkungan hidup semakin meningkat. Latar belakang itulah yang membuat ESG reporting menjadi bukti penting untuk menunjukkan komitmen bisnis energi terhadap kondisi di sekitarnya. Kesungguhan yang ditunjukkan perusahaan bisa jadi modal awal untuk memperkuat citra positif serta meraih loyalitas masyarakat sebagai pelanggan.
- Mendukung perencanaan inovasi bisnis: ESG reporting juga menjadi bekal berharga untuk menyiapkan perencanaan inovasi bisnis. Segala kekurangan maupun kekurangan bisnis industri energi yang disampaikan dalam ESG reporting adalah bahan evaluasi sebelum merealisasikan perbaikan di berbagai aspek.
Bagaimana Langkah-Langkah Membuat ESG Reporting?
Secara garis besar, langkah-langkah pembuatan ESG reporting dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Identifikasi tujuan pemangku kepentingan dan bentuk tim: jika pemangku kepentingan telah menguraikan tujuan internal dan eksternal yang menjadi target industri energi, maka perusahaan harus bergegas membentuk tim untuk menjalankan program ESG. Anggota tim mesti terdiri dari staf yang andal di berbagai bidang, antara lain keuangan, manajemen risiko, serta pengelolaan SDM.
Riset tentang ESG reporting: tahapan berikutnya adalah meneliti contoh ESG reporting dari berbagai sumber. Usai melakukan pengamatan, maka tim ESG mesti melibatkan pemangku kepentingan untuk memutuskan metrik yang nantinya akan digunakan dalam ESG reporting perusahaan. Penentuan matrik tersebut hendaknya sesuai dengan tujuan perusahaan energi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. - Pengumpulan data untuk menyusun laporan: langkah terakhir dalam proses pembuatan ESG reporting adalah pengumpulan data dengan acuan berupa metrik yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelaksanaannya bisa mengkombinasikan cara manual maupun otomatis sesuai kondisi perusahaan. Proses ini wajib dilakukan secara teliti dan transparan disertai jejak audit lengkap untuk mendukung kesempurnaan ESG reporting.
- Buat perbandingan sebagai bekal perbaikan: data yang sudah dirangkum dalam bentuk ESG reporting dapat dikirim ke badan evaluasi seperti Dow Jones Sustainability Indices (DJSI) atau Carbon Disclosure Project (CDP) supaya bisa dibandingkan dengan perusahaan lain di sektor yang sama. Hal ini penting untuk menjadi bahan evaluasi tambahan sehingga kelak menjadi perusahaan yang lebih unggul, khususnya dari segi ESG.
Sinergi antara pemangku kepentingan dan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan industri energi menjadi kunci sukses bagi efektivitas ESG reporting. Penerapan ESG reporting secara teratur membuka kesempatan bagi perusahaan untuk berkembang lebih baik di era modern.