Wawancara Dengan PELINDO II

Laporan Hasil Wawancara PT. Pelabuhan Indonesia II:
Proses Implementasi Manajemen Risiko Berbasis SNI ISO 31000 di Industri Pelabuhan

Sebagai negara maritim, tentunya keberadaan industri pelabuhan di Indonesia memiliki peranan penting bagi kemajuan ekonomi.

PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO) bertanggungjawab untuk mengelola industri ini mulai dari penetapan hingga penerapan regulasi yang mengatur kegiatan operasional seluruh pelabuhan.

Dalam pelaksanaan tugas-tugasnya, PT. PELINDO menerapkan Manajemen Risiko untuk meminimalisir serta mengantisipasi berbagai hambatan yang mungkin terjadi.

Lalu bagaimana penerapan, praktik hingga tantangan Manajemen Risiko yang dihadapi oleh PT. PELINDO? Mari simak laporan hasil wawancaranya di bawah ini!

UMUM 

Pertanyaan  :
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor publik, apakah peran Pelindo II bagi Indonesia?

Jawaban       :
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor pelabuhan dan logistik, Pelindo II berperan sangat penting dalam mendukung perekonomian nasional. Apabila kegiatan bongkar muat dan logistik lancar, maka perekonomian pun akan dapat tumbuh dengan baik. Khususnya dalam hal ekspor/impor, Pelindo II berperan dalam menjaga kelancaran keluar-masuknya barang ke dan dari luar negeri.

Di samping itu, Pelindo II juga berperan dalam melakukan pemerataan distribusi barang pada tingkat nasional. Barang-barang yang biasanya cenderung berpusat di Jakarta akan disalurkan ke daerah-daerah melalui pelabuhan serta jaringan logistik yang dikelola oleh Pelindo II. Suksesnya program tol laut juga merupakan tanggungjawab Pelindo II dalam rangka mendukung pemerataan distribusi barang ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Melalui kebijakan pembangunan infrastruktur oleh Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, peran Pelindo II pun semakin besar dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang berhubungan dengan pelabuhan dan logistik.

Pertanyaan  :
Pelindo II pasti memegang berbagai macam proyek besar pemerintah yang mengandung risiko-risiko besar pula. Dengan demikian semakin penting pula peran manajemen risiko di sektor publik. Bagaimana Pelindo II mengelola risiko risiko yang ada di masing masing proyek ?

Jawaban       :
Hingga akhir tahun 2018, Pelindo II menganggarkan IDR 12 T untuk pendanaan beberapa proyek strategis nasional. Beberapa proyek strategis tersebut antara lain adalah:

  • Pelabuhan Kijing di Pontianak (sudah siap jalan)
  • Alur Cikarang Bekasi Laut (kanal)
  • Pelabuhan New Tanjung Priok (sudah jalan, dan sedang memasuki tahap berikutnya)

Setiap proyek ditangani oleh seorang manajer proyek yang juga bertanggung jawab untuk  mengelola risiko di proyek tersebut. Hal ini dilakukan karena setiap proyek memiliki risiko yang berbeda-beda. Selanjutnya, manajemen risiko proyek akan berkoordinasi dengan Divisi Manajemen Risiko di Kantor Pusat. 

Pertanyaan  :
Sejak kapan Pelindo II telah memiliki Unit Manajemen Risiko dan 
menerapkan manajemen risiko?

Jawaban       :
Pelindo II telah memiliki Unit Manajemen Risiko sejak tahun 2006.Dalam perkembangannya, Unit Manajemen Risiko diubah dan berkembang menjadi Departemen Manajemen Risiko. Pada tahun 2016, manajemen Pelindo II membentuk sebuah divisi Manajemen Risiko. Divisi Manajemen Risiko ini berada di bawah Direktorat Teknik & Manajemen Risiko. Pembentukan Divisi Manajemen Risiko ini juga menunjukkan bahwa direksi memiliki komitmen untuk meperbesar peran manajemen risiko.

KULTUR MANAJEMEN RISIKO 

Pertanyaan    :
Bagaimana kultur manajemen risiko saat ini di Pelindo II ? Apakah setiap karyawan di dalam perusahaan telah aware terhadap risiko dan mampu mengelolanya dengan baik?

Jawaban         :
Awareness terhadap risiko di Pelindo II mengalami pasang surut sejak dibentuknya unit manajemen risiko pada tahun 2006. Awareness ini meningkat pesat di tahun 2016, saat pimpinan puncak menunjukan mandat dan komitmen mereka dalam penerapan manajemen risiko. Pada bulan Agustus 2016, diselenggarakan sebuah forum yang dihadiri oleh BOD, BOC, VP, serta direksi dan komisaris anak perusahaan (total sekitar 100 orang) yang mengangkat agenda terkait risk awareness for Senior Executive. Tindak lanjut dari forum tersebut adalah penandatanganan sebuah plakat yang menunjukkan keseriusan BOC dan BOD untuk menerapkan manajemen risiko.

Bukti nyata dari komitmen BOD dan BOC adalah dengan disetujuinya anggaran untuk melaksanakan program edukasi, pelatihan, serta sertifikasi yang telah diikuti oleh 162 orang pejabat di tingkat pusat dan cabang. Pada bulan November 2017, Pelindo II telah menambah lagi pelatihan serta sertifikasi bagi 162 orang pejabat di tingkat anak perusahaan. Manfaat yang diperoleh perusahaan tidak hanya awareness yang meningkat tapi juga mulai terbentuknya budaya sadar risiko di Pelindo II.

Pertanyaan    :
Bagaimana cara Bapak mengembangkan kultur manajemen risiko di 
Pelindo?

Jawaban         :
Budaya sadar risiko dapat terbentuk apabila mendapat dukungan dari pimpinan puncak dan juga dukungan seluruh karyawan. Pada tahap awal, budaya ini perlu ditunjukkan melalui komitmen BOD dan BOC yang dituangkan dalam bentuk kebijakan dan prosedur. Awalnya memang para karyawan akan merasa terpaksa dalam melakukan segala aturan dan kebijakan yang ada. Namun, apabila sudah terbiasa dengan peraturan yang ada, maka penerapan manajemen risiko pun akan dapat berkembang menjadi sebuah budaya yang baik dalam perusahaan.

Pertanyaan    :
Apa tantangan terbesar bapak dalam usaha mengembangkan kultur manajemen risiko?

Jawaban         :
Tantangan terbesar adalah bagaimana perusahaan dapat memperoleh dukungan dari manajemen puncak. Apabila mandat dan komitmen telah diperoleh dari manajemen puncak, maka pembentukan dan penerapan kultur manajemen risiko dapat menjadi jauh lebih mudah dan efektif.

Di Pelindo II, mandat dan komitmen ini telah berhasil dibakukan pada bulan Agustus 2016 melalui adanya plakat yang ditandatangani oleh para pimpinan puncak perusahaan yang di turunkan dalam bentuk kebijakan dan prosedur manajemen risiko. Bahkan, perusahaan mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 3 miliar untuk mengadakan pelatihan serta sertifikasi bagi karyawan. Sebuah pencapaian yang tidak mungkin terjadi apabila pimpinan puncak tidak memiliki keseriusan dalam penerapan manajemen risiko.

PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO

Pertanyaan    :
Apa risiko terbesar yang dihadapi pelindo II dalam menjalankan usahanya?

Jawaban         :
Risiko yang dihadapi oleh Pelindo II pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu risiko internal dan risiko eksternal. Risiko internal terbesar yang dihadapi Pelindo adalah risiko operasional. Sebagai perusahaan yang bergerak di pelabuhan dan logistik, setiap harinya Pelindo II melakukan kegiatan operasional dalam skala yang sangat besar. Risiko operasional merupakan risiko yang ditangani serius oleh Pelindo II.

Di samping risiko internal tersebut, risiko eksternal terbesar yang dihadapi oleh Pelindo II adalah risiko terkait regulasi. Di dalam industri pelabuhan, terkadang batasan aturan yang ada belum terlalu jelas dijabarkan. Selain itu, ada juga risiko dari regulasi baru yang muncul justru memberikan tantangan bagi Pelindo II untuk dapat beroperasi secara optimal.

Pertanyaan    :
Apa tantangan terbesar penerapan manajemen risiko di Pelindo II?

Jawaban         :
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah terkait menciptakan keinginan (willingness) dari para individu untuk mulai melakukan kajian risiko. Penerapan manajemen risiko sebenarnya merupakan upaya agar setiap individu dapat “mengamankan” diri sendiri. Dalam proses sosialisasi penerapan manajemen risiko operasional, selalu ditekankan bahwa dampak kecelakaan kerja sangat buruk bagi karyawan dan juga bagi Perusahaan. Penerapan manajemen risiko dapat menghindari karyawan dari kecelakaan kerja. 

ISO 31000 

Pertanyaan    :
Dalam penerapan manajemen risiko di  Pelindo II, apakah mengacu pada ISO 31000?
                          Bagaimanakah praktik nyatanya?

Jawaban         :
Ya, penerapan manajemen risiko di Pelindo II telah mengacu pada SNI ISO 31000. Salah satu hal terpenting dalam komponen kerangka kerja manajemen risiko SNI ISO 31000 adalah adanya mandat dan komitmen. Mandat dan komitmen ini ditunjukan melalui adanya kebijakan manajemen risiko yang telah disetujui oleh BOD dan BOC. Di samping itu, untuk menunjukkan keseriusan para pimpinan puncak dalam penerapan manajemen risiko, maka di setiap direktorat dan cabang telah ditunjuk risk champion dan risk officer untuk memastikan proses manajemen risiko di jalankan dengan baik. 

RISK INNOVATION DAN THE FUTURE OF RISK 

Pertanyaan    :
Inovasi-inovasi apa saja yang telah dilakukan oleh Pelindo II terkait dengan 
pengelolaan risiko yang dihadapi?

Jawaban         :
Pelindo II telah melakukan berbagai inovasi dalam rangka pengelolaan risiko yang dihadapi. Inovasi-inovasi tersebut terutama dilakukan untuk penanganan risiko di bidang operasional dan keuangan. Sebagai contoh pada bidang operasional, perusahaan telah memiliki sistem auto-tally, sebuah sistem yang memungkinkan penghitungan bongkar muat barang lebih akurat dan cepat. Sebelumnya, proses ini rentan terhadap terjadinya kesalahan perhitungan karena dilakukan secara manual oleh manusia. Dengan adanya sistem baru, penghitungan barang pun akan menjadi lebih efisien.

Di bidang keuangan, Pelindo II telah menerapkan sistem manajemen arus kas dengan melakukan kerjasama dengan berbagai bank untuk mempermudah proses monitoring keluar masuknya dana milik Pelindo II. Hal ini berdampak pada semakin efisiennya segala proses yang ada di dalam pelabuhan. 

Pertanyaan    :
Menghadapi era digital ini, apakah Pelindo II memiliki pendekatan 
pendekatan secara digital dalam rangka menerapkan manajemen risiko yang lebih efektif?

Jawaban         :
Pelindo II telah melakukan kajian terkait proses bisnis yang ada saat ini untuk kemudian secara bertahap dapat berubah mengikuti era digital. Disamping itu, Pelindo II akan terus berupaya untuk memperkuat arsitektur IT yang dimiliki dalam rangka mendukung segala proses bisnis dapat dilakukan lebih efisien.

Khusus di Divisi Manajemen Risiko, Pelindo II bekerja sama dengan CRMS Indonesia untuk menghadirkan proses pembelajaran yang berbasis IT. Baru baru ini telah di luncurkan aplikasi e-learning bidang manajemen risiko pertama di Indonesia dengan metode penyampaian melalui video dan animasi yang mempermudah insan Pelindo II untuk belajar lebih banyak mengenai penerapan manajemen risiko. Saat ini para peserta pendidikan dan pelatihan manajemen risiko di Pelindo II telah dapat mengakses sebuah metode pembelajaran yang inovatif, menarik, dan user-friendly.

Pertanyaan    :
Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan the future risk yang akan
 dihadapi oleh Pelindo II, apalagi di era digital yang semakin berkembang ini?

Jawaban         :
Risiko yang akan dihadapi Pelindo II di masa mendatang antara lain adalah risiko terkait ketersediaan sumber daya manusia yang terampil, risiko keuangan, risiko hukum serta penerapan teknologi pada era digital.

Tantangan di masa mendatang akan semakin berat dan kompleks, sehingga dibutuhkan SDM yang ahli di bidangnya masing masing untuk menjawab tantangan tersebut. Divisi manajemen risiko juga akan terus mengembangkan kemampuan SDM yang ada. Dengan dukungan seluruh stakeholder yang ada, diharapkan Pelindo II dapat terus maju dan berkembang di masa yang akan datang.

NARASUMBER:
Raden Rachmadi Gustrian, ST, MM, ERMCP, QCRO
Deputi Bidang Risiko Non-Operasional PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero)