Menyeimbangkan Manfaat dan Risiko dari Evolusi Teknologi

Evolusi teknologi. Ini adalah salah satu topik yang paling banyak dibicarakan terutama di era serba teknologi seperti sekarang. Bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari, inovasi teknologi juga turut berdampak besar pada kegiatan yang ada di perusahaan dan juga berhubungan erat dengan konsumen. Salah satu contohnya adalah adanya peningkatan yang cukup dramatis pada dunia bisnis dan bagaimana perusahaan dan konsumen berinteraksi. Mulai dari komunikasi via perangkat mobile, tabungan pensiun yang bisa diatur dengan mudah dengan “robot penasihat” dan inovasi lainnya yang membuat segala hal menjadi lebih fleksibel jika dibandingkan dengan cara-cara tradisional.

Tentunya untuk mencapai tujuan bisnis yang diharapkan, sebuah perusahaan harus dapat beradaptasi dengan teknologi guna menciptakan layanan yang berkualitas ataupun dalam optimalisasi proses bisnisnya. Namun, penerapan teknologi informasi memerlukan perencanaan yang strategis agar penerapannya dapat selaras dengan tujuan bisnisnya.

Kombinasi teknologi dan bisnis ini tentunya akan memberikan dampak secara signifikan pada bagaimana jalannya perusahaan. Hal ini akan berdampak cukup besar pada karyawan yang memiliki paparan teknologi yang berbeda-beda pula. Ini merupakan sebuah tantangan yang berdampak pada kesempatan jangkauan bisnis yang lebih luas namun juga memiliki risikonya tersendiri. Salah satu risiko tersebut antara lain yaitu:

  • Risiko Personal: siapa saja yang memiliki identitas pribadi Anda secara digital?
  • Risiko Bisnis: Apa saja yang akan terjadi pada bisnis, supplier dan juga klien jika keberadaan Anda secara digital telah diretas?
  • Risiko Politik
  • Risiko Global

Diperlukan suatu pengukuran terhadap risiko penerapan teknologi pada perusahaan. Penerapan ini berguna untuk mengetahui profil risiko yang ada dalam penerapan teknologi, analisa terhadap risiko, kemudian melakukan respon terhadap risiko tersebut sehingga tidak terjadi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh risiko tersebut.

Regulator seperti Komite Infrastruktur Pembayaran dan Pasar (CPMI) dan Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (IOSCO) telah menetapkan apa saja risiko-risiko cyber yang menjadi ancaman utama terutama pada masalah keuangan dan sistem apa saja yang bisa mengalami kegagalan. Dengan langkah ini, dapat diketahui peran apa saja yang harus dilakukan oleh manajemen risiko terutama dalam sektor keuangan. Sehingga perusahaan dapat lebih berkonsterasi untuk mengatur dan mengendalikan risiko sebelum hal tersebut terjadi.

Hal ini juga menunjukkan bagaimana manajemen risiko bukan hanya soal menangani beragam serangan namun juga bagaimana hal tersebut membutuhkan struktur yang kuat dalam perusahaan. Manajemen risiko harus diikuti oleh beragam pemegang jabatan dalam sebuah perusahaan agar sama-sama teredukasi, memiliki akuntabilitas, transparansi, dan juga komunikasi yang baik. Perusahaan harus menjalankan beberapa skenario yang mungkin saja menjadi risiko bagi perusahaan mereka.

Manajemen Risiko dirancang untuk melakukan lebih dari sekedar mengidentifikasi risiko. Sistem juga harus mampu mengukur risiko dan memprediksi dampak dari risiko. Jika manajemen risiko diatur dengan baik, proses akan terus menerus identifikasi masalah dan resolusi, maka sistem akan mudah melengkapi sistem lain. Hal–hal yang tidak terduga akan berkurang karena penekanan akan menjadi manajemen yang proaktif dan bukan reaktif.

Walapun setiap bisnis memiliki risiko. Namun, pada umumnya risiko berasal dari ketidakpastian dalam berbagai hal dan aspek-aspek eksternal lainnya yang berada di luar kontrol perusahaan. Kehadiran teknologi selain harus mampu membantu perusahaan mengurangi risiko bisnis yang ada, perlu pula menjadi sarana untuk membantu manajemen dalam mengelola risiko yang dihadapi. Jadi, sudahkah manajemen risiko dalam perusahaan Anda memenuhi risiko dari teknologi yang terus berkembang?