about CRMS


Peran Indikator Risiko Kunci dalam Manajemen Risiko (The Role of Key Risk Indicators in Risk Management)

Oleh: Irham Wahyudi, Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Katolik Parahyangan (Konsentrasi Manajemen Risiko)
Bandung, 22 Januari 2011

 

Ketidakpastian dalam menjalankan aktivitas baik yang berasal dari internal maupun eksternal entitas dapat mempengaruhi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Ketidakpastian berperan sebagai sumber dari munculnya hal-hal atau risiko yang dapat mengancam atau mengganggu aktivitas operasional entitas maupun yang dapat menyebabkan ketidakmampuan entitas dalam merealisasikan peluang-peluang yang ada guna membantu entitas dalam mencapai tujuannya. Tuntutan untuk mengelola hal-hal atau risiko tersebut telah menjadi prioritas tertentu bagi entitas sebagai salah satu bentuk upaya dalam menjaga dan memastikan keberlangsungan entitas itu sendiri.

Manajemen risiko merupakan sebuah sistem manajemen yang dapat diterapkan guna mengelola risiko-risiko yang dihadapi oleh entitas. Dalam penerapannya, berbagai alat-alat bantu dapat digunakan oleh entitas untuk mewujudkan penerapan manajemen risiko yang efektif. Salah satunya adalah indikator risiko kunci (key Risk Indicator) yang merupakan salah satu alat bantu dalam aktivitas pemantauan risiko.  

Indikator risiko kunci adalah suatu peristiwa atau hal tertentu yang memberikan indikasi terjadinya suatu peristiwa risiko. Penggunaan indikator risiko kunci dalam aktivitas pemantauan risiko dapat memberikan peringatan atau informasi lebih dini kepada manajemen entitas bahwa kemungkinan terjadinya suatu peristiwa risiko semakin meningkat. Hal tersebut dapat terwujud karena pemantauan dilakukan untukfokus terhadapperistiwa-peristiwa yang menjadi indikasi terjadinya suatu peristiwa risiko, bukan terhadap peristiwa risiko itu sendiri. Berdasarkan peringatan atau informasi tersebut entitas dapat melakukan berbagai tindakan mitigasi lebih awal guna mengurangi kemungkinan terjadinya peristiwa risiko maupun dampak yang mungkin ditimbulkan oleh risiko tersebut(jika terjadi). Sehingga dalam praktiknya indikator risiko kunci akan berperan sebagai suatu sistem peringatan dini (early warning system) bagi entitas.

Dalam praktiknya, agar dapat menjadi indikator yang terukur dan mudah dipantau serta dapat berperan sebagai sistem peringatan dini, indikator risiko kunci ditetapkan beserta parameter-parameternya, yang terdiri dari:

  1. Ambang batas bawah (Medium Threshold),
    Merupakan ambang batas awal yang memberikan indikasi suatu peristiwarisiko dapat terjadi dengan kemungkinan yang kecil.
  2. Ambang batas atas (High Threshold),Merupakan ambang maksimum yang memberikanindikasi
    suatu peristiwarisiko dapat terjadi dengan kemungkinan besar. 
  3. Satuan ukur (Value Unit)
    Satuan ambang batas (threshold).

Adapun mekanisme indikator risiko kunci sebagai sistem peringatan dini dapat diilustrasikan dalam diagram alir berikut ini:

Ilustrasi Mekanisme Indikator Risiko Kunci

Berikut contoh penggunaan indikator risiko kunci beserta parameternya:

Tujuan yang ingin dicapai oleh PT Aadalah penyelesaian pekerjaan sesuai dengan jadwal yang telah disusun (tepat waktu).

Risiko yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:

Indikator kunci yang dapat ditetapkan beserta parameternya adalah sebagai berikut:

Berdasarkan informasi tersebut, manajemen PT A melakukan pemantauan terhadap indikator risiko kunci, yaitu jumlah surat ijin sakit personil Tim Pelaksana Lapangan.

Jika dalam suatu rentang waktu tertentu terdapat jumlah surat ijin sakit dari personil Tim Pelaksana Lapangan mencapai 26% dari total jumlah anggota tim, hal ini memberikan indikasi bahwa “Risiko personil Tim Pelaksana Lapangan tidak mampu melakukan pekerjaan karena mengalami gangguan kesehatan” dapat terjadi dengan kemungkinan yang kecil.

Tetapi bila jumlah surat ijin sakit dari personil Tim Pelaksana Lapangan telah mencapai 57% dari jumlah personil tim, hal ini memberikan indikasi yang kuat kepada manajemen PT Abahwa risiko yang teridentifikasi dapat terjadi dengan kemungkinan yang lebih besar, dan dapat menimbulkan dampak berupa keterlambatan penyelesaian pekerjaan (jika terjadi).

Dengan informasi yang diperoleh, manajemen PT A dapat melakukan tindakan mitigasi lebih awal guna mengurangi kemungkinan atau mencegah terjadinya risiko tersebut. Berdasarkan contoh di atas, pada saat peristiwa indikator risiko kunci mencapaiambang batas bawah,manajemen PT A dapat melakukan tindakan mitigasi berupa pengecekan kesehatan dan pengobatan bagi personil Tim Pelaksana Lapangan guna mencegah bertambahnya jumlah personil tim yang mengalami gangguan kesehatan. Diharapkan     “Risiko personil Tim Pelaksana Lapangan tidak mampu melakukan pekerjaan karena mengalami gangguan kesehatan” dapat dicegah dan membantu pencapaian tujuan, yaitu pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah disusun.

Contoh lainnyadalam penggunaan indikator risiko kunci adalah, masih dengan menggunakan konteks perusahaanyang sama pada contoh sebelumnya, adalah sebagai berikut:

Disamping penyelesaian pekerjaan tepat waktu, tujuan PT Alainnya adalah memiliki reputasi yang baik di mata masyarakat dan konsumen.

Risiko yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:

Indikator risiko kunci yang ditetapkan beserta parameternya adalah sebagai berikut:

Dengan mekanisme yang sama dengan contoh sebelumnya, PT A melakukan pemantauan terhadap peristiwaindikator risiko kunci, yaitu protes atau unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.

Bila terjadi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat sekitar sebanyak 6 kali dalam 1 bulan, informasi ini telah memberikan suatu peringatan dini kepada manajemen PT Abahwa ambang batas atas dari parameter indikator risiko kunci telah terlampaui. Artinya “Risiko pemberitaan negatif tentang perusahaan di media massa karena dampak negatif pekerjaan terhadap lingkungan sekitar” dapat terjadi dengan kemungkinan yang lebih besar dan jika terjadi dapat berdampak kepada menurunnya  reputasi perusahaan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, manajemen PT A melakukan suatu tindakan mitigasi sesegera mungkin guna mengurangi atau menekan kemungkinan terjadinya risikotersebut. Adapun tindakan mitigasi yang dilakukan oleh manajemen entitas berupa dialog dengan masyarakat sekitar guna mengetahui keluhan masyarakat akibat aktivitas pekerjaan dan dilanjutkandengan perbaikan atau rehabilitasi terhadap lingkungan sekitar tempat PT A beraktivitas. Diharapkan dengan tindakan mitigasi tersebut, “Risiko pemberitaan negatif tentang perusahaan di media massa karena dampak negatif pekerjaan terhadap lingkungan sekitar”dapat dicegah sebelum risiko tersebut benar-benar terjadi.

Berdasarkan 2 contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa indikator risiko kunci merupakan suatu mekanisme terstruktur yang berperan sebagai sistem peringatan dini dalam penerapan manajemen risiko. Diharapkan dengan pemantauan yang dilakukan terhadap indikator risiko kunci dapat membantu manajemen entitas dalam melakukan berbagai tindakan lebih awal dalam memitigasi dampak maupun kemungkinan terjadinya suatu peristiwa risiko yang dapat menimbulkan deviasi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

 

--oOo--